Minggu, 05 April 2020

MATERI_4 DAN TUGAS | BAB 3 DRAMA KEHIDUPAN

Kaidah Kebahasaan Drama


Kalimat langsung dalam drama lazimnya diapit oleh dua tanda petik (” ”)Teks drama menggunakan kata ganti orang ketiga pada bagian prolog atau epilognya. Karena melibatkan banyak pelaku (tokoh), kata ganti yang lazim digunakan adalah mereka.
Lain halnya dengan bagian dialognya, yang kata gantinya adalah kata orang pertama dan kedua. Mungkin juga digunakan kata-kata sapaan. Seperti yang tampak pada contoh teks drama tersebut bahwa kata-kata ganti yang dimaksud adalah aku, saya, kami, kita, kamu. Adapun kata sapaan, misalnya, anak-anak, ibu.
Sebagaimana halnya percakapan sehari-hari, dialog dalam teks drama juga tidak lepas dari munculnya kata-kata tidak baku dan kosakata percakapan, seperti kok, sih, dong, oh. Di dalamnya juga banyak ditemukan kalimat seru, suruhan, pertanyaan. Perhatikan contoh berikut!
1.    Selamat pagi, Anak-anak!
2.    Selamat pagi, Buuuuuu!
3.    Wah…jangan marah dong, aku kan cuma bercanda!
4.    Arga, kenapa sih kamu selalu usil?
5.    Kenapa kamu selalu mengejek aku?
6.    Memangnya kamu suka kalau diejek?
7.    Aduh…maaf deh! Kamu marah ya, In?
Selain itu, teks drama memiliki ciri-ciri kebahasaan sebagai berikut.
  1. Banyak menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu (konjungsi temporal), seperti: sebelum, sekarang, setelah itu, mula-mula, kemudian.
  2. Banyak menggunakan kata kerja yang menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi, seperti menyuruh, menobatkan, menyingkirkan, menghadap, beristirahat.
  3. Banyak menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh, seperti : merasakan, menginginkan, mengharapkan, mendambakan, mengalami.
  4. Menggunakan kata-kata sifat untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana. Kata-kata yang dimaksud, misalnya, ramai, bersih, baik, gagah, kuat.

Kalimat Tanya

Kalimat tanya (introgatif) adalah kalimat yang isinya menanyakan sesuatu atau seseorang. Kalimat tanya digunakan ketika ingin mengetahui barang, orang, waktu, tempat, cara, dan yang lainnya.
Perhatikan contoh penggunaannya dalam penggalan wacana di bawah ini.
1.
Di antara kerumunan muncullah seorang lelaki muda mendekati ibu tadi lalu berjongkok.
2.
”Ibu mau pergi ke mana?”
3.
”Aku mau pulang,” katanya dengan nada lemah.
4.
”Pulang ke mana?”
5.
”Sebenarnya aku sudah mengunjungi rumah kakakku, tetapi tidak ada di rumah.”
6.
”Memangnya rumah ibu di mana?”
7.
”Rumahku jauh di Garut. Eh, ehm… anu.”
8.
”Ada apa Bu?”
9.
”Be… be… begini, Jang.”
10.
”Aku butuh uang untuk ongkos pulang.”
11.
”Uangku habis bahkan untuk membeli minum pun tidak ada.”

(Sumber: Cerpen “Ibuku Sayang, Ibuku Malang” oleh Lina Budiarti).


Kalimat tanya dinyatakan dengan kalimat nomor 2), 4), 6), dan 8). Selain ditandai oleh tanda tanya (?), kalimat itu disertai dengan kata tanya mana dan apa. Meskipun demikian, kalimat tanya ada pula yang tidak disertai dengan kata tanya. Perhatikan contoh sebagai berikut.
1.
Kak Alam sudah kuliah?
2.
Ini rumah Pak Kosasih?
3.
Tadi malam hujan, ya?


Kalimat tanya pun banyak sekali ragamnya. Ada yang disebut dengan kalimat tanya retoris, kalimat tanya yang hanya memerlukan jawaban ”ya” atau ”tidak”, kalimat tanya yang memiliki tujuan selain bertanya. Berikut contoh-contohnya:
a.
Kalimat tanya yang hanya memerlukan jawaban ya atau tidak. Kalimat ini biasa digunakan untuk tujuan klarifikasi atau meminta kepsatian.

Contoh:

1.
Jadi, betul para petani di sini mengalami gagal panen?

2.
Katanya Anda mau menanam sayur-sayuran di lahan ini?
b.
Kalimat tanya yang tidak memerlukan jawaban. (pertanyaan retoris)

Contoh:

1.
Petani mana yang tidak ingin untung dari usahanya?

2.
Siapa sih yang berharap usahanya merugi terus?
c.
Kalimat tanya yang memiliki tujuan selain bertanya.
Dari segi tujuannya kalimat ini serupa dengan kalimat perintah. Kalimat itu sesungguhnya berisikan suruhan, permintaan, ajaan, rayuan, sindiran, sanggahan.

Contoh:

1.
Mau tidak kamu mengambil benih itu di rumah Pak Lurah? (permintaan, suruhan).

2.
Kamu mau kan bekerja di kebun saya? (ajakan)

3.
Masa seorang petani sekadar untuk menanam padi pun tidak bisa? (sindiran)

Setelah kalian mempelajari kaidah kebahasaan teks drama, selanjutnya coba kalian kerjakan tugas di link berikut:

https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSfKdy5sBBBowMDvsLvMVNDNOaEM_Ecsh2TJHK4Y8sCP75eppA/viewform







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MATERI_4 | BAB 4 KEMBANGKAN KEGEMARAN MEMBACA

Menyajikan Peta Konsep dari Isi Buku Fiksi/Nonfiksi Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu: membuat peta pikiran dari is...